Jumat, 06 April 2012

Sejarah Pendidikan Islam


MASA PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM
by:sukatno_man2madiun 

A. Pendahuluan
Pada masa pembinaan yang berlangsung pada zaman Nabi Muhamad SAW, pendidikan Islam berarti memasukkan ajaran-ajaran Islam kedalam unsur-unsur budaya. Masa tersebut berlangsung sejak Nabi Muhammad menerima wahyu dan menerima pengangkatannya sebagai rasul. Pendidikan Islam berarti memasuki ajaran-ajaran Islam kedalam unsur-unsur suatu bangsa Arab pada masa itu, sehingga diwarnai oleh Islam dalam pembinaan tersebut.
Ada beberapa hal yang terjadi dalam masa pembinaan tersebut yaitu (1) Islam mendatangkan sesuatu unsur yang sifatnya memperkaya dan melengkapi unsur budaya yang telah ada, seperti Al-Qur’an. Didatangkannya Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad SAW untuk dihafal dan dipelajari oleh umatnya pada masa itu adalah memperkaya sifat unsur budaya Sastra Arab yang pada masa itu diakui mempunyai tingkah laku yang tinggi. (2) Islam mendatangkan ajaran baru yang belum ada sebelumnya untuk meningkatkan kesejahterean masyarakat dan meningkatkan perkembangan budayanya. (3) Islam tidak merubah ajaran yang sifatnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya, dibiarkan tetap berlaku dan berkembang dengan mendapatkan pengarahan-pengarahan seperlunya. (4)  Islam mendatangkan suatu ajaran yang sifatnya meluruskan kembali nilai-nilai yang ada dalam kenyataan praktisnya telah menyimpang dari ajaran aslinya.
Dengan demikian, terbentuklah suatu tatanan nilai dan budaya Islami yang sempurna dalam ruang lingkup yang sepadan baik dari segi situasi, waktu dan perkembangan zaman. Tatanan inilah yang diwariskan pada generasi yang berikutnya untuk dikembangkan baik secara kualitatif, yaitu meningkatkan nilai budaya yang telah ada sebelumnya maupun kuantitatif, yaitu mengarahkan pada pembentukan budaya dan ajaran yang baru untuk menambah kesempurnaan dan kesejahteraan hidup masyarakat.
Pelaksanaan pendidikan Islam pada zaman Nabi dapat dibedakan menjadi dua tahap, baik dari segi waktu dan tempat penyelenggaraan, maupun dari segi isi dan materi pendidikannya, yaitu (1) fase Makkah, sebagai fase awal pembinaan pendidikan Islam dengan Makkah sebagai pusat pembinaannya, dan (2) fase Madinah, sebagai fase lanjutan (penyempurnaan) pembinaan/pendidikan Islam dengan Madinah sebagai pusat pembinaannya.
Kemudian Pendidikan Islam pada masa pertumbuhan dan masa perkembangannya serta pada masa-masa yang berikutnya, memiliki dua sasaran yaitu kepada pemuda, merupakan pewarisan ajaran Islam kepada generasi muda (generasi penerus) kebudayaan Islam dengan pendidikan Islam dan kepada masyarakat lain yang belum menerima ajaran Islam, artinya penyampaian ajaran Islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat yang belum dan baru menerima ajaran Islam yang lazim disebut dengan dakwah Islam. Tujuan dari dakwah ini tak lain adalah agar mereka menerima ajaran Islam sebagai suatu sistem kehidupan.

B. Pembahasan
1. Pelaksanaan pendidikan Islam di Makkah
Fase pendidikan Islam di Makkah merupakan fase terberat bagi Nabi Muhammad SAW karena di Makkah Nabi banyak mengalami kendala dan tantangan yang datang dari masyarakat Makkah itu sendiri, hal ini dikarenakan ketidak sukaan orang-orang Makkah terhadap agam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu sebelum Nabi Muhammad SAW memulai tugasnya sebagai rasul, yaitu melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya, Allah telah mendidik dan mempersiapkanya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, melaui pengalaman serta peran sertanya dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya.[1]
Pola pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah sejalan dengan tahapan-tahapan dakwah yang disampaikannya kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini penulis membaginya kepada tiga tahap  :
a.    Tahap Pendidikan Islam secara Rahasia dan Perorangan
Pada awal turunnya wahyu pertama (the first revelation), Al-Qur’an surat 96, ayat 1-5, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi-sembunyi, mengingat kondisi sosiopolitik yang belum stabil, dimulai dari dirinya sendiri dan keluarga dekatnya. Mula-mula Rasulullah mendidik isterinya, Khadijah, untuk beriman dan menerima petunjuk-petunjuk Allah, kemudian diikuti oleh anak angkatnya Ali bin Abi Thalib (anak pamannya)  dan Zahid bin Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya, yang kemudian diangkat menjadi anak angkatnya).[2]
Setelah itu Nabi mengajak sahabat-sahabatnya, yang dilakukan dengan sangat hati-hati dan tidak sembarangan. Beliau mengarahkan ajakannya kepada sahabat-sahabat yang kuat imannya dan dari kalangan Quraisy yang berpengaruh di masyarakat. Di antara mereka adalah Abu Bakar, sahabat yang beliau kenal pribadinya dan terbuka pikirannya. Setelah beriman dan mendukung Nabi, Abu Bakar secara diam-diam mengajak kaum Quraisy memeluk agama Islam, diantaranya adalah Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abd al Rahman bin ‘Auf, Thallah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abi al Arqam, Fattimah binti Khattab bersama suaminya, Said bin Zaid dan beberapa orang lainnya.[3] 
Setelah Nabi mendapat pengikut, beliau menghimpun mereka untuk menerima penjelasan-penjelasan yang diajarkan secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam di bukit Shafa. Rumah Arqam dipilih sebagai tempat berkumpulnya umat Islam untuk menerima pelajaran dari Nabi, karena Arqam adalah sahabat Nabi yang setia sekaligus lokasinya yang sangat baik, terhadang dari penglihatan kaum Quraisy. Hal ini penting dilakukan untuk memberi keamanan dan ketenangan kepada kaum muslimin yang sedang mengadakan kegiatan dan pertemuan guna menerima pelajaran. Menurut Syalabi, rumah Arqam ini merupakan lembaga pendidikan yang pertama. Di rumah Arqam Rasulullah mengajarkan pokok-pokok agama Islam dan mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada sahabat dan pengikut-pengikut Nabi. Pendidikan pertama yang dilakukan oleh Nabi adalah membina pribadi muslim agar menjadi kader-kader yang berjiwa kuat dan tangguh dari segala cobaan untuk dipersiapkan masyarakat Islam dan mubaligh serta pendidik yang baik.[4]
b.    Tahap Pendidikan islam secara terang-terangan
Pendidikan secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama tiga tahun, sampai turun wahyu berikutnya, yang memerintahkan dakwah secara terbuka dan terang-terangan.[5] Ketika wahyu tersebut turun, beliau mengundang keluarga dekatnya untuk berkumpul di bukit Shafa, menyerukan agar berhati-hati terhadap azab yang keras di kemudian hari (hari kiamat) bagi orang-orang yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Seruan tersebut dijawab Abu Lahab, Celakalah kamu Muhammad! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami?. Saat itu turun wahyu menjelaskan perihal Abu Lahab dan Isterinya.[6]
Perintah dakwah secara terang-terangan dilakukan oleh Rasulullah, seiring dengan jumlah sahabat yang semakin banyak dan untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah, karena diyakini dengan dakwah tersebut banyak kaum Quraisy yang akan masuk agama Islam. Disamping itu, keberadaan rumah Arqam ibn Arqam sebagai pusat dan lembaga pendidikan Islam sudah diketahui oleh Kuffar Quraisy.
c.    Tahap Pendidikan Islam untuk Umum
Hasil seruan dakwah secara terang-terangan yang terfokus kepada keluarga dekat, kelihatannya belum maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka Rasulullah mengubah strategi dakwahnya dari seruan yang terfokus kepada keluarga dekat beralih kepada seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Seruan dalam skala “internasional” tersebut didasarkan kepada perintah Allah, surat al-Hijr ayat 94-95.[7]
Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, pada musim haji Rasulullah mendatangi kemah-kemah para jamaah haji. Pada awalnya tidak banyak yang menerima, kecuali sekelompok jamaah haji dari Yastrib, Kabiulah Khazraj yang menerima dakwah secara antusias. Dari sinilah sinar Islam memancar keluar Makkah.
Penerimaan masyarakat Yatsrib terhadap ajaran Islam secara antusias tersebut, dikarenakan beberapa faktor, (1) adanya kabar dari kaum Yahudi akan lahirnya seorang Rasul ; (2) Suku Aus dan Khazraj mendapat tekanan dan ancaman dari kelompok Yahudi ; (3) Komplik antara Khazraj dan Aus yang berkelanjutan dalam rentang waktu yang sudah lama, oleh karena itu mereka mengharapkan seorang pimpinan yang mampu melindungi dan mendamaikan mereka.
Berikutnya, dimusim haji pada tahun kedua belas kerasulan Nabi Muhammad SAW, Rasulullah didatangi dua belas orang laki-laki dan seorang wanita untuk berikrar kesetiaan, yang dikenal dengan “Bai’ah al’Aqabah I” mereka berjanji tidak akan menyembah selain kepada Allah SWT, tidak akan mencuri dan berzina, tidak akan membunuh anak-anak, dan menjauhkan perbuatan-perbuatan keji serta fitnah, selalu taat kepada Rasulullah dalam jalan yang benar, dan tidak mendurhakainya terhadap sesuatu yang mereka tidak inginkan.
Pendidikan Islam pada periode Makkah secara konsep dalam pengetahuan Islam tergolong dalam pengetahuan yang diwahyukan. Karena secara garis besarnya ada dua macam yaitu pengetahuan yang diwahyukan dan pengetahuan yang di peroleh,[8] dalam hal ini pendidian periode Makah lebih condong ke dalam pengetahuan yang diwahyukan karena semua yang diajarkan berasal dari firman Allah, sunnah atau hadits Nabi.
Sejarah menjelaskan kepada kita bahwa pendidik khususnya pada zaman Rasulullah dan para sahabat bukan merupakan profesi atau pekerjaan untuk menghasilkan uang atau sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupanya, melainkan mereka mengajar karena panggilan agama, yaitu sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.[9]
Zuhairini membagi materi pendidikan pada fase Makkah kepada dua bagian yaitu: (1) pendidikan tauhid, (2) pengajaran al_Qur’an.[10]
1.    Pendidikan Tauhid
Nabi Muhammad SAW dalam melaksanakan tugas kerasulanya berhadapan dengan nilai warisan Nabi  Ibrahim yang telah banyak menyimpang dari yang sebenarnya. Inti warisan tersebut adalah ajaran tauhid, tetapi ajaran tersebut dalam budaya yang dihadapi oleh Nabi Muhammad telah pudar dalam budaya masyarakat bangsa Arab Jahiliyah.[11] Nabi Muhammad SAW mempeoleh kesadaran dan penghayatan yang mantap tentang ajaran tauhid yang intisarinya adalah sebagaimana tercermin dalam surat Al-Fatihah, yang pokok-pokoknya adalah:
1.    Allah adalah pencipta alam semesta, pengatur kehidupan manusia, pemilik segalanya maka Dia yang berhak mendapat pujian dari manusia. Memuji Allah harus dilaksanakan secara langsung kepadanya bukan seperti kebiasaan masyarakat yang memuji tuhan dengan perantaraan berhala-berhala.
2.    Allah bersifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang memberikan dorongan untuk menjabarkan sifat kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama manusia yang berbeda dengan sikap permusuhan antar suku di kalangan bangsa Arab.
3.    Allah adalah raja hari kemudian, memberikan pengertian bahwa segala amal perbuatan manusia, baik atau buruk akan di balas oleh-Nya, pegertian tersebut bertentangan dengan kepercayaann orang Arab yang menganggap tidak ada hidup sesudah mati.
Pelaksanaan atau praktek pendidikan tauhid tersebut diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya dengan cara yang sangat bijaksana yaitu dengan menuntun akal pikiran untuk mendapatkan dan meniru pengertian tauhid yang diajarkan, dan sekaligus beliau memberikan teladan dan contoh bagaimana pelaksanaan ajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari secara kongkrit, kemudian beliau memerintahkan agar umatnya mencontoh praktek pelaksanaan tersebut sesuai dengan apa yang dicontohkannya. Berarti di sini Nabi Muhammad SAW telah mampu menyesuaikan diri dengan pola kehidupan masyarakat Jahiliyah dengan mengajarkan ilmu tauhid secara baik dengan tanpa kekerasan.
2.    Pengajaran Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah intisari dan sumber pokok dari ajaran Islam yang di sampaiakn oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya. Tugas Nabi Muhammad SAW disamping mengajarkan tauhid juga mengajarkan Al-Qur’an kepada umatnya, agar secara utuh dan sempurna menjadi milik umatnya yang selanjutnya akan menjadi pegangan dan pedoman hidup bagi kaum muslimin sepanjang zaman.
Ada beberapa faktor yang memungkinkan Nabi Muhammad SAW mengajarkan Al-Qut’an dengan baik dan sempurna. Masyarakat bangsa Arab pada masa itu di kenal sebagai masyarakat yang ummi yang pada umumnya tidak dapat membaca dan menulis.[12]
Mahmud Yunus, dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam menyatakan bahwa pembinaan pendidikan Islam pada masa ini meliputi;
a.    Pendidikan keagamaan, yaitu hendaklah dengan membaca nama Allah semata-mata, jangan mempersekutukannya dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah, sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jauhnya.
b.    Pendidikan aqliyah dan ilmiyah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta
c.    Pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad SAW mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.
d.    Pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman.

2. Pelaksanaan Pendidikan Islam di Madinah
Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindari diri dari tekanan dan ancaman kaum Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak ingin menghadapi pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang mereka, tetapi juga mengandung maksud untuk mengatur potensi dan menyusun kekuatan dalam menghadapi tantangan-tantangan lebih lanjut, sehingga nanti akhirnya terbentuk masyarakat baru yang nantinya bersinar kembali mutiara tauhid warisan Ibrahim yang akan disempurnakan oleh Muhammad SAW melalui wahyu Allah SWT.
Di lingkungan yang baru tersebut, ternyata bukanlah lingkungan yang betul-betul baik yang tidak menimbulkan permasalahan. Di Madinah Nabi Muhammad SAW menghadapi permasalahan-permasalahan yang baru. Beliau menghadapi permasalahan bahwa umatnya terdiri dari dua latar belakang kehidupan kelompok yang berbeda, yaitu;
1. Mereka yang berasal dari Makkah yang disebut dengan kaum Muhajjirin, dan;
2. Merupakan penduduk asli yang disebut kaum Ansor.
Melihat kenyataan tersebut, beliau mengatur dan menyusun segenap potensi yang ada di dalam lingkungannya, memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan potensi dan kekuatan yang ada, dalam rangka menyusun masyarakat yang baru yang terus berkembang, yang mampu menghadapi segenap tantangan dan rintangan yang berasal dari luar dengan kekuatan sendiri.
Terdapat suatu peristiwa penting dalam sejarah pendidikan Islam dimasa setelah Nabi muhamad SAW wafat, yaitu peristiwa pemberontakan dari orang-orang murtad yang enggan membayar zakat. Serta timbulnya nabi-nabi palsu pada masa pemerintahan Abu Bakar.[13]
Untuk mengatasi pemberontakan yang datang dari orang-orang yang baru masuk Islam dan belum memiliki keimanan yang kuat tersebut, maka Abu Bakar mengirim pasukan yang terdiri dari para sahabat. Namun mereka tetap membangkang dan menimbulkan peperangan sehingga para sahabat yang hafal Al-Qur’an menjadi mati syahid. Hal ini segera disadari oleh Umar bin Khattab, sehingga Umar dan para sahabat bermusyawarah dibawah pimpinan Abu Bakar untuk menjaga keutuhan Al-Qur’an. Hal ini dilakukan dengan cara penulisan kembali alqur’an yang pada masa raslullah belum tersusun dengan sempurna kedalam satu mushaf yang utuh dan sempurna sesuai yang dihafal oleh para sahabat. Sehingga pada akhirnya Abu Bakar mengirimkan para sahabatnya kebeberapa daerah untuk memasukkan ajaran Al-Qur’an kedalam unsur-unsur budaya mereka, sehingga terbentuklah pusat pengajaran pendidikan Islam.

1.    Pusat-pusat Pendidikan Islam
Dalam perkembangannya pendidikan Islam menunjukan perkembangan dalam subsistem yang bersifat operasional dan teknis terutama tentang metode, alat-alat dan bentuk kelembagaan adapun hal yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan Islam tetap dapat dipertahankan sesuai dengan ajaran Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah[14].
Seiring dengan perkembangan penyampaian ajaran Islam diluar Madinah, maka dipusat-pusat wilayah yang baru dikuasai oleh Islam, berdirilah pusat-pusat pendidikan yang dikuasai oleh para sahabat yang kemudian dikembangkan oleh para penerus sahabat yang berupa tabi’in dan selanjutnya.
Bersamaan dengan pengembangan daerah kekuasaan Islam pada masa-masa berikutnya berkembang pula pusat-pusat kegiatan pendidikan Islam, baik mereka yang baru masuk Islam, bagi para generasi muda (anak-anak), maupun bagi mereka yang memperdalam dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam Islam.
Mahmud Yunus dalam bukunya menerangkan bahwa, pusat pendidikan tersebut tersebar pada wilayah-wilayah berikut :
1.    di Kota Mekah dan Madinah (Hijaz)
2.    di Kota Basrah dan Kufah (Irak)
3.    di Kota Damsik dan Palestina (Syam)
4.    di Kota Fistat (Mesir).
            Dalam pusat-pusat pendidikan tersebutlah para sahabat memberikan pelajaran tentang pengajaran agama Islam pada para penduduk setempat maupun para penduduk yang datang dari daerah lain. Para sahabat menyampaikan pendidikan Islam dalam bentuk kholaqoh di masjid atau tempat pertemuan lainnya yang berupa khuttab ataupun madrasah. Pada masa pertumbuhan Islam, terdapat beberapa madrasah yang terkenal, antara lain :
a.    Madrasah Makkah
Guru pertama yang mengajar di madrasah ini adalah Mu’ad bin Jabal yang mengajarkan Al-Qur’an, dan fikih (hukum halal dan haram dalam Islam).[15]
Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan (65 – 86 H), Abdullah bin Abbas turut mengajar ilmu tafsir, hadits, fiqih, dan sastra. Sehingga Abdullah bin Abbas lah yang membangun madrasah ini menjadi termasyhur keseluruh negeri Islam.  Ketika Abdullah bin Abbas wafat, maka pengajaran dalam madrasah ini diteruskan oleh para muridnya, antara lain Mujahid bin Jabar seorang ahli tafsir alqur’an yang diriwayatkanya dari ibnu Abbas, Athak bin Abu Rabbah seorang ahli fiqih, dan Thawus bin Kaisan seorang fuqaha dan mufti di Makkah. Kemudian diteruskan kembali oleh Sufyan bin Uyainah dan Muslim bin Khalid al Zanji.
b.    Madrasah Madinah
Madrasah ini lebih termasyhur dari madrasah makkah, karena disini adalah tempat tinggalnya para sahabat Rasulullah, termasuk Abu Bakar dan Usman bin Affan.[16] Diantara sahabat yang mengajar di sini adalah, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit adalah sahabat yang mahir dalam bidang qiro’at dan fiqih, sehingga belaiaulah yang mendapatkan tugas untuk penulisan kembali Al-Qur’an, dan Abdullah bin Umar seorang ahli hadits yang selalu berfatwa dengan apa yang termaktub dalam hadits dan sebagai pelopor Madzab al Hadits yang berkembang pada generasi yang berikutnya. Setelah para guru yang dahulu meninggal maka pengajaran diteruskan oleh para tabi’in, antara lain Sa’ad bin Musyayab dan Urwah bin Alzubair.
c.    Madrasah Basrah
Sahabat-sahabat yang terkenal di Basrah antara lain, Abu Musa Al Asy’ari yang terkenal sebagai ahli fiqih, hadits dan ilmu Al-Qur’an[17], dan Anas bin Malik yang termasykhur dalam ilmu hadits. Diantra guru yang mengajar di sini adalah Hasan Al-Basri seorang ahli fiqih, ahli pidato, dan kisah serta seorang yang ahli fikir dan tasawauf, dan juga Ibnu Sirin seorang ahli hadits dan ilmu fiqih.
d.    Madrasah Kuffah
Sahabat-sahabat yang termasyhur di sini adalah Ali bin Abi Tahlib yang mengurusi masalah politik dan pemerintahan, dan Abdullah bin Mas’ud sebagai guru agama yang diutus langsung oleh khalifah Umar bin Khattab, disamping itu beliau adalah seorang ahli fiqih, tafsir dan banyak meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah SAW.[18]
e.    Madrasah Damsyik
Setelah negeri Syam (Syiria) menjadi bagian dari negeri Islam dan penduduknya banyak yang beragama Islam, maka khalifah Umar bin Khattab mengirimkan tiga guru agama yang ditempatkan pada tempat yang berbeda, antara lain Muadz bin Jabal di Palestina, Abu Dardak di Damsyik, dan Ubadah di Hims. Madrasah ini juga mampu melahirkan imam penduduk syam Abdurrahman Al-Auza’i yang ilmunya sederajat dengan Imam Malik dan Abu Hanifah.[19]
f.      Madrasah Fistat (Mesir)
Sahabat yang semula mendirikan madrasah ini adalah Abdullah bin Amru bin Ash merupakan seorang yang ahli dalam ilmu hadits.[20] Kemudian guru yang termasyhur setelah nya adalah Yazid bin Abu Habib Al-Nuby dan Abdillah bin Abu Ja’far bi Rabi’ah.
            Pada masa pertumbuhan pendidikan Islam ini terdapat empat orang Abdullah yang memiliki jasa yang sangat besar dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama yang tersebar di berbagai kota, antara lain :
1.    Abdullah bin Masy’ud di Kuffah
2.    Abdullah bin Abbas di Makkah
3.    Abdullah bin Amr bin Al-Ash di Mesir
            Namun para sahabat tersebut tidak menghafal semua perkataan Nabi dan tidak lansung melihat tindakan Nabi, sehingga ini memaksa para murid-muridnya untuk belajar ilmu tidak cukup hanya pada satu ulama. Sehingga mereka harus menjelajahi beberapa kota untuk melanjutkan pendidikannya.
2.    Pengajaran Al-Qur’an
Intisari ajaran Islam adalah apa saja yang termaktub dalam Al-Qur’an, sedangkan penjelasan dari apa yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah Hadits. Nabi Muhammad telah dengan sempurna memberikan penjelasan dari apa-apa yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an. Sehingga Rasulullah dianggap telah sempurna dalam penyampaian Al-Qur’an dalam menyampaikan isi kandungan Al-Qur’an sesuai dengan masa itu, sekaligus beliau pula telah memberikan contoh yang sempurna tentang bagaimana cara mempraktekkan dan menjalankan ajaran-ajaran Al-Qur’an.
Setelah wafatnya Rasulullah keadaan menjadi berubah, bila dulu pengajaran Al-Qur’an bersumber langsung dari Rasulullah SAW maka sekarang bersumber dari para sahabat yang menyampaikan ajaran Al-Qur’an berdasarkan cara-cara yang digunakan oleh Rasulullah SAW, hal ini pun berlanjut pada generasi selanjutnya agar ajaran Al-Qur’an mampu diteruskan dan disampaikan pada orang yang baru masuk Islam.
Problema pertama yang dialami para sahabat dalam menyampaikan ajaran Al-Qur’an adalah menyangkut pada Al-Qur’an itu sendiri. Pada saat itu memang Al-Qur’an telah secara lengkap diturunkan dan ada dalam hafalan para sahabat, namun tidak semua sahabat hafal Al-Qur’an secara sempurna. Juga pada saat itu Al-Qur’an belum tertulis pada mushaf yang sempurna, yakni Al-Qur’an hanya ditulis oleh para sahabat yang pandai menulis, sesuai yang diperintahkan oleh Nabi Muhamad SAW sewaktu masih hidup.
Sementara itu dengan meninggalnya para sahabat yang hafal Al-Qur’an,  berarti akan makin berkuranglah nara sumber yang mampu menghafal Al-Qur’an dengan sempurna. Sehingga timbullah usaha-usaha untuk mengumpulkan Al-Qur’an.
Dalam usaha pengumpulan Al-Qur’an tersebut Abu Bakar sebagai kholifah memerintah kan Zaid bin Tsabit untuk menulis Al-Qur’an. Sehingga terkumpullah Al-Qur’an yang tertulis di atas daun lontar, batu, tanah keras, tulang unta, dan lain-lain.  Dalam mengemban tugasnya ini tentu Zaid melakukannya dengan sangat hati-hati dan teliti, walaupun ia sepenuhnya hafal setiap ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an. Dalam mengemban tugasnya Zaid dibantu oleh beberapa sahabat, yaitu Ubai bin Ka’ab, Ali bi Abi Thalib, dan Usman bin Affan.
Setelah terkumpul semua ayat-ayat Al-Qur’an tersebut, kemudian disusunlah Al-Qur’an itu dalam tempat yang seragam, sesuai dengan susunan dan urutan yang ada dalam hafalan para sahabat. Dengan demikian sempurnalah Al-Qur’an dalam bentuk yang tertulis, dan dalam bentuk bacaan atau hafalan.
Problema yang kemudian muncul dalam pengajaran Al-Qur’an adalah masalah pembacaan atau qiroat. Bacaan yang terdapat dalam Al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab, sehingga orang yang tidak bisa berbahasa Arab harus menyesuaikan lidahnya dengan lidah orang Arab. Sehingga dalam pengajaran Al-Qur’an diselingi dengan pengajaran bahasa Arab praktis.
Kemudian masalah qiroat ini semakin lama semakin jelas terdapat perbedaan pada cara setiap oarang dalam membacanya, karena setiap orang yang belajar Al-Qur’an pada para sahabat diajarkan dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan logat mereka masing-masing. Namun perbedaan dalam penggunaan logat yang berbeda dalam membaca Al-Qur’an tidak menjadi masalah ketika masih berada pada lingkungan orang Islam yang berbahasa Arab, namun ketika keluar pada kaum muslimin yang tidak berbahasa Arab, maka timbul rasa ketidak fahaman dan perasaan asing akan bacaan Al-Qur’an tersebut. Sehingga pada akhirnya terjadilah pemikiran bahwa bacaannya adalah yang paling benar dan apakah bacaan yang lain itu salah. Hal ini mulai disadari pada masa pemerintahan Usman bin Affan.
Hal ini pertama kali disadari oleh Hudzaifah bin Yaman ketika ia sedang dalam pertempuran di Armenia dan Azerbeijan. Selama dalam perjalanannya ia mendengarkan pertikaian antar kaum muslim, sehingga ia mengusulkan pada Kholifah Usman untuk segera mengatasi pertikaian umat Islam tersebut.
Usman bin Affan pun meminjam naskah atau lembaran-lembaran Al-Qur’an yang ditulis pada zaman pemerintahan Abu Bakar yang disimpan oleh Hafshah binti Umar untuk ditulis kembali. Dalam penulisan ini Usman kembali menunjuk Zaid bin Tsabit dan juga orang-orang yang terlibat dalam penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad SAW. Dalam penulisan kembali Al-Qur’an ini Usman memberikan beberapa nasehat pada panitia penulisan, yaitu :
1.    mengambil pedoman pada bacaan mereka yang hafal Al-Qur’an
2.    kalau ada pertikaian antara mereka tentang bacaan tersebut,  maka haruslah dituliskan pada lisan Quraisy, karena Al-Qur’an itu diturunkan sesuai dengan lisan mereka.[21]
Al-Qur’an yang telah dikumpulkan ini dinamakan Al-Mushaf, dan dibuat sebanyak lima buah mushaf. Kemudian dikirimkan oleh khalifah masing-masing ke Makkah, Syiria, Basrah, dan Kuffah, serta yang satu tetap dipegang oleh khalifah di Makkah. Khalifah Usman berpesan agar catatan yang sebelumnya dikumpulkan dan dibakar, untuk menhindari perselisihan bacaan al-Qur’an serta keasliannya.[22]
Dengan demikian manfaat pembukuan Al-Qur’an pada masa Usman adalah :
1.    menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushaf yang seragam ejaan tulisannya
2.    menyatukan bacaan, dan kendatipun masih terdapat perbedaannya, namun harus tidak berlawanan dengan ejaan mushaf Usman. Dan bacaan-bacaan yang tidak sesuai tidak diperbolehkan
3.    menyatukan tartib susunan surat-surat, menurut tartib urutannya sebagaimana yang kelihatan pada mushaf-mushaf saat ini.
            Untuk memudahkan pengajaran Al-Qur’an pada kaum muslimin yang tidak berbahasa Arab, maka guru Al-Qur’an telah mengusahakan :
1.    mengembangkan cara membaca Al-Qur’an dengan baik yang kemudian menimbulkan ilmu tajwid Al-Qur’an
2.    meneliti cara pembacaan Al-Qur’an yang telah berkembang pada masa itu, mengenai mana yang sah dan mana yang tidak sah. Kemudian hal ini menimbulkan adanya ilmu qiro’at yang kemudian timbul dengan apa yang dikenal dengan qiro’at al Sab’ah
3.    memberikan tanda-tanda baca dalam tulisan mushaf, sehingga menjadi mudah dibaca dengan benar bagi mereka yang baru belajar membaca Al-Qur’an
4.    memberikan penjelasan tentang maksud dan pengertian yang dikandung oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang diajarkan yang kemudian berkembang menjadi ilmu tafsir.
3.    Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan Islam
Pendidikan Islam pada dasarnya adalah mewariskan nilai kebudayaan Islam kepada generasi muda dan mengembangkannya sehingga mencapai dan memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya. Jika perkembangan pendidikan Islam pada masa Rasulullah adalah merupakan masa penyemaian niali kebudayaan Islam kedalam sistem kebudayaan bangsa Arab, maka pendidikan Islam yang telah berkembang pada saat ini adalah merupakan pemupukan secara luas nilai dan kebudayaan Islam agar tumbuh dengan subur dalam lingkukngan yang lebih luas.
Islam adalah agama fitrah, agama yang berdasarkan potensi dasar manusiawi dengan landasan petunjuk Allah. Pendidikan Islam berarti menumbuhkan dan mengembangkan potensi fitrah tersebut, dan mewujudkannya dalam sistem budaya manusiawi yang Islami. Sehingga wajar apabila Islam menerima budaya yang sesuai ajaran Islam dan menolak semua budaya yang menyimpang dari ajaran yang Islami lalu menggantinya dengan ajaran yang baru yang bersifat Islami.
Masalah yang pertama dialami oleh para sahabat begitu Rasulullah wafat ialah siapa dan bagaimana pengganti yang menggantikannya. Berbagai pandangan berkembang dikalangan sahabat tentang siapa yang berhak menggantikan Rasulullah SAW sebagai pemegang kekuasaan tertiggi. Ali bin Abi Thalib pun merasa berhak menggantikan Nabi karna faktor pewarisan, namun para sahabat sepakat menunjuk Abu Bakar sebagai kholifah pengganti Rasulullah.
Setelah Mu’awiyah berhasil merebut kekuasaan pada masa Ali, maka sistem politik mengalami perubahan dengan banyak dipengaruhi oleh kekuasaan raj-raja Romawi. Dengan berkembangnya sistem politik ini, berkembang pulalah pola dan corak kehidupan masyarakatnya. Pola kehidupan yang lama ingin dipertahankan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan banyak permasalahan yang membuat para sahabat terpaksa untuk membuat ketentuan hukum.
Sebenarnya Rasulullah telah memberikan pedoman untuk menentukan memberikan keputusan hukum terhadap masalah-masalah baru yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Yang terang kum dalam sebuah hadits yang meriwayatkan tentang percakan rasul dengan Muadz bin Jabal ketika ia diangkat sebagai hakim di kota Syam.
Petunjuk Nabi Muhamad SAW tersebut dalam memberikan keputusan hukum tersebut adalah pertama-tama hendaknya dicari ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an, jika tidak ada hendaknya dicari dalam As-sunnah atau hadits, dan apa bila tetap tidak menemukan maka menggunakan fikiran yang berupa ijtihad untuk memberikan ketentuan hukum.
Dalam prakteknya ternyata para sahabat tetap merasa kesulitan dalam menentukan hukum, disamping Al-Qur’an hanya menjelaskan ketentuan hukum secara umum, ternyata para sahabat juga memiliki masalah dalam menentukan hadits yang sesuai, karena para sahabat tidak semuanya menghafal hadits. Suatu perkara tersebut menjadi sangat jelas ketika terdapat permasalahan yang jauh dari para sahabat. Sehingga timbulah pertanyaan tentang bagaimana pengunaan ra’yu ijtihad.
Dalam berijtihad kemudian berkembang dua pola, yakni Ahl Al-Hadits dalam memberikan ketentuan hukum sangat bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah, sehingga bagaimanapun mereka berusaha mendapatkan hadits-hadits tersebut dari sahabat-sahabat yang lain. Sehingga terjadilah usaha pengumpulan hadits-hadits pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis.
Kemudian pola yang kedua adalah yang dikembangkan oleh Ahl Ar-ra’yu (ahli fikir). Mereka ini karena keterbatasan hadits yang mereka terima dan terdapatnya banyak hadits palsu, sehingga mereka hanya menerima hadits-hadits yang shahih saja dan lebih banyak menggunakan ra’yu dalam berijtihad. Sehingga ra’yu mendorong terhadap penelitian tentang hadits, yang kemudian lahirlah ilmu hadits.
Berhadapan dengan pemikiran teologis dari orang kristen yang ingin merusak ajaran Islam, maka dalam Islam berkembanglah ilmu teologi yang semula digunakan khusus untuk melawan pemikiran teologis dari orang kristen, yang dikenal dengan ilmu kalam. Kemudian ilmu kalam ini berkembang menjadi ilmu yang membahas tentang berbagai pola pemikiran yang berkembang dalam dunia Islam.
Pada garis besarnya, pemikiran Islam dalam pertumbuhannya muncul dalam tiga pola, yaitu :
1.    Pola pemikiran yang bersifat skolastik, yang terikat pada dogma-dogma dan berfikir dalam rangka mencari pembenaran terhadap dogma-dogma agama. Pola pikir ini terikat pada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits.menurut pola pemikiran ini, kebenaran hanyalah di dapat dari wahyu sedangkan akal berfungsi sebagai alat penerimanya.
2.    Pola pemikiran yang bersifat rasional, yang lebih mengutamakan akal fikiran. Pola fikir ini menganggap bahwa akal fikiran sebagaimana juga halnya dengan wahyu, adalah merupakan sumber kebenaran. Akal digunakan sebagai alat untuk mencari kebenaran sedangkan wahyu hanya digunakan sebagai penunjang untuk mencari kebenaran.
3.    Pola berfikir yang bersifat batiniyah dan intuitif yang berasal dari mereka yang mempunyai pola kehidupan sufitis. Menurut pemikiran ini kebenaran yang tertinggi adalah diperoleh dari pengalaman-pengalaman batin dalam kehidupan yang mistis dan dengan jalan berkontemplasi. Dalam proses pemikiran ini, seorang yang ingin mendapatkan kebenaran harus melalui beberapa tahapan, yakni :
a.       tahapan terbawah disebut syari’at
  1. tahapan tharikhat
  2. hakikat
  3. dan tahapan yang tertinggi disebut dengan Ma’rifat. Pada golongan yang tertinggi ini seorang akan mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya yang pada mulanya dikembangkan oleh orang sufi.
            Dengan demikian jelaslah dengan semakin luasnya kekuasaan wilayah Islam, maka akan semakin luas pula perkembangan kebudayaan dan pemikiran umat Islam.
Pendidikan Islam bila di lihat dari segi kehidupan kultural umat manusia tidak lain adalah merupakan salah satu alat pembudayaan (enkulturasi) masyarakat manusia itu sendiri. Sebagai suatu alat pendidikan dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia, sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial kepada titik optimal kemampuan untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kesejahteraan hidup di akherat.[23]

       Sistem Pendidikan Islam pada masa kejayaan adalah sebagai berikut:
a. Kurikulum
Menurut Ahmad Tafsir kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau dipelajari oleh siswa. Lebih luas lagi, kurikulum bukan saja sekedar rencana pelajaran, tetapi semua yang secara nyata terjadi dalam proses pendidikan di sekolah.[24]
Pada masa kejayaan Islam mata pelajaran bagi kurikulum sekolah tingkat rendah adalah Al-Qur’an dan agama, membaca, menulis dan syair. Dalam berbagai kasus ditambahkan Nahwu cerita, dan berenang, dalam kasus-kasus lain dikhususkan untuk membaca Al-Qur’an dan mengajarkan sebagian prinsip-prinsip pokok agama. Sedangkah untuk anak-anak amir dan penguasa, kurikulum tingkat rendah cukup berbeda. Di istana-istana biasanya ditegaskan pentingnya pengajaran Kittabah ilmu sejarah, cerita perang, cara-cara pergaulan, disamping ilmu-ilmu pokok seperti Al-Qur’an, syair dan fikih.[25]
Setelah usai menempuh pendidikan tingkat rendah siswa bebas memilih bidang studi yang ingin dia dalami di tingkat tinggi nanti. Jika ia ingin mendalami fikih ia harus belajar fikih kepada para ulama fikih yang ia kehendaki,  jika hendak mendalami hadis ia mesti berguru kepada ulama-ulama hadis seperti kasus Imam al-Bukhari. Semula ia bermula belajar kepada Muhammad bin al-Hasan, tetapi setelah Muhammad bin al-Hasan melihat bahwa ilmu Hadis lebih sesuai bagi al-Bukhari, ia menyarankan agar al-Bukhari belajar hadis. Contoh lain diriwayatkan bahwa Yunus bin Habib pernah belajar ilmu ‘Arudh kepada al-Khalil bin Ahmad, tetapi ia mengalami kesukaran terhadap ilmu tersebut. Maka ia tinggalkan pelajaran tersebut lalu ia berpindah mempelajari ilmu Nahwu sehingga ia berhasil menjadi ahli terkemuka dalam bidang Nahwu.
b. Metode pengajaran.
Metode pengajaran yang dipakai pada masa dinasti Abbasiyah dapat dikelompokkan kedalam tiga macam yaitu lisan, hafalan dan tulisan. Metode lisan bisa berupa dikte, ceramah, qira’ah dan diskusi. Dikte (imla) adalah metode untuk menyampaikan pengetahuan yang dianggap baik dan aman karena pelajar mempunyai catatan. Jika daya ingat pelajar tidak kuat, catatan bisa membantunya. Metode ini dianggap penting, karena pada masa klasik buku-buku catatan seperti sekarang sulit sekali dimiliki. Metode ceramah disebut juga metode al samak, sebab dalam metode ceramah guru membaca bukunya atau menjelasakan isi buku dengan hafalan, sedangkan murid mendengarkannya. Pada saat tertentu guru berhenti dan memberi kesempatan kepada pelajar-pelajar untuk menulis dan bertanya. Metode qira’ah atau membaca biasanya digunakan untuk belajar membaca. Sedangkan diskusi merupakan metode yang khas dalam pendidikan Islam dimasa ini. Ulama-ulama sering mengadakan majelis-majelis diskusi atau perdebatan. Metode ini banyak digunakan dalam pengajaran ilmu-ilmu yang bersifat filosofis dan fikih, bahkan menurut Ahmad Amin aliran Mu’tazilah menjadikan salah satu rukun Islam.[26] Dalam proses penyerapan ilmu, diskusi adalah metode yang lebih efektif dari pada metode-metode diatas. Diskusi dapat menjadikan murid aktif. Diskusi juga melatih murid menguraikan ilmu dan menggunakan daya berfikir secara aktif, sedangkan menulis membaca dan sebagainya lebih pasif.[27]
c. Rihlah Ilmiyah
Salah satu ciri yang paling menarik dimasa klasik yaitu sistem rihlah ilmiyah yaitu ilmiyah pengembaraan atau perjalanan jauh untuk mencari ilmu.
Dengan demikian sistem rihlah ilmiyah dalam pendidikan Islam dimasa klasik tidak hanya dibatasi dengan dinding kelas. Pendidikan Islam memberi kebebasan kepada murid-murid untuk belajar kepada guru-guru yang mereka kehendaki selain murid-murid, guru-guru juga melakukan perjalanan dan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengajar sekaligus belajar. Dengan demikian sistem rihlah ilmiyah disebut Learning Sociaty (masyarakat belajar).[28]
d. Wakaf
Menurut Syalabi bahwa Khalifah Al-Mah’mun adalah orang yang pertama kali mengemukakan pendapat tentang pembentukan badan waqaf. Ia berpendapat bahwa kelangsungan kegiatan keilmuan tidak tergantung pada subsidi negara dan kedermawanan penguasa-penguasa. tetapi juga membutuhkan kesadaran untuk bersama-sama negara menagung biaya pelaksanaan pendidikan.[29]
Peranan sangat waqaf sangat besar dalam menunjang pelaksanaan pendidikan. Dengan waqaf umat Islam mendapat kemudahan dalam menuntut ilmu. Karena waqaf pendidikan Islam tidak terlalu menuntut biaya bagi pelajar-pelajar sehingga baik miskin atau kaya mendapat kesepakatan mendapat belajar yang sama, bahkan mereka khususnya yang miskin akan mendapat fasilitas-fasilitas yang luar biasa dan tiada putusnya.[30]

C. Kesimpulan
Dari pembahasan masa pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.    Pendidikan  Islam pada masa Nabi dapat dibedakan menjadi dua tahap, baik dari segi waktu dan tempat penyelenggaraan maupun dari segi isi dan materi pendidikannya, yaitu fase Makkah yang menekankan pengajarannya tentang tauhid dan pengajaran Al-Qur’an, sedangkan fase Madinah Nabi menekankan pengajarannya tentang sosial kemasyarakatan dan politik.
2.    Pendidikan pada masa Nabi Muhammad SAW adalah bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup masyarakat kearah yang lebih beradab dan lebih baik yang sesuai dengan akidah Islam.
3.    Nabi Muhammad dalam mendidik umatnya secara bertahap, yang dimulai dari keluarga dekatnya dan beberapa sahabat lainnya, yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kemudian setelah berlangsung sampai dengan tiga tahun, Nabi menerima perintah dari Allah untuk memberikan pendidikan dan seruannya secara terbuka
4.    Pendidikan Islam pada dasarnya adalah mewariskan nilai kebudayaan Islam kepada generasi muda dan masyarakat untuk memberikan manfaat maksimal bagi hidup dan kehidupan manusia sesuai dengan tingkat perkembangannya.
5.    Jika perkembangan pendidikan Islam pada masa Rasulullah adalah merupakan masa penyemaian nilai kebudayaan Islam kedalam sistem kebudayaan bangsa Arab, maka pendidikan Islam yang telah berkembang pada saat ini adalah merupakan pemupukan secara luas nilai dan kebudayaan Islam agar tumbuh dengan subur dalam lingkukngan yang lebih luas.
6.    Pendidikan Islam bila di lihat dari segi kehidupan kultural umat manusia tidak lain adalah merupakan salah satu alat pembudayaan (enkulturasi) masyarakat manusia itu sendiri. Sebagai suatu alat pendidikan dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia, sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial kepada titik optimal kemampuan untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kesejahteraan hidup di akherat.



DAFTAR PUSTAKA

A. Mustafa,  Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung,  CV Pustaka Setia,   1999

Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, Kairo:al-Nahdah al-Misriyyah, 1996, jilid II

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bina Aksara, 1992

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang, Toha Putra, 1989

Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Logos, 1999

Hasan Langgulung, Azas-Azas Pendidikn Islam, Jakarta:Pustaka al-Husna, 1992, cet. II

Nur Uhbiyati,  Ilmu Pendidikan Islam, Bandung, CV Pustaka Setia, 1997

Sukarno dan Ahmad, Supardi,Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Angkasa Bandung, 1990, cet. ke-2

Suwito dan Fauzan,  Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakrta, Kencana, 2005

Samsul Nizar (ed.), Sejarah Pendidikan Islam Menelusuri Jejak Sejarah Rasulullah Sampai indonesia, Jakarta, Kencana, 2007

Zuhairini,dkk,  Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1995


[1]  Zuhairini,dkk,Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Bumi Aksara,1995) ,hal 18
[2]  Zaenal Efendi Hasibuan,”Profil Rasulullah Sebagai Pendidik Ideal Telaah Pola Pendidikan Islam Era Rasulullah Fase Mekkah dan Medinah”,dalam Samsul Nizar (ed.),Sejarah Pendidikan Islam MenelusuriJejak Sejarah Rasulullah Sampai indonesia, (Jakarta:Kencana,2007),hal 5
[3]  Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Logos,1999) ,hal 12
[4] Ibid,hal 13
[5] Zaenal Efendi Hasibuan,”Profil Rasulullah Sebagai Pendidik Ideal Telaah Pola Pendidikan Islam Era Rasulullah Fase Mekkah dan Medinah”,dalam Samsul Nizar (ed.),Sejarah Pendidikan Islam MenelusuriJejak Sejarah Rasulullah Sampai indonesia, (Jakarta:Kencana,2007),hal 5
 [6] Lihat, QS 111 :1-5

[7] Sukarno dan Ahmad, Supardi,Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Banung: Angkasa Bandung,1990),cet. ke-2, hal 32
[8]  Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta : Bina Aksara, 1992),hal  9
[9]    Suwito dan Fauzan, Sejarah Sosial Pendidikan Islam,(Jakrta:Kencana,2005),hal  3
[10]  Lihat, Zuhairini dkk, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta:Bumi Aksara:bekerja sama dengan Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depatemen Agama,1997), cet. Ke-5, hal 23-31 
[11]  Zuhairini,dkk,Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Bumi Aksara,1995), hal 23
[12] Ibid, hal  28
[13]Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Logos,1999) ,hal 16
 Lihat, Mhd. Dalpen,” Pola Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin”,dalam Samsul Nizar (ed.),Sejarah Pendidikan Islam MenelusuriJejak Sejarah Rasulullah Sampai indonesia, (Jakarta:Kencana,2007),hal 44-45
[14]  A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia,(Bandung: CV Pustaka Setia, 1999),hal 11
[15] Kurniawan,” Pola Pendidikan Islam Pada Periode Rasulullah Mekkah dan Medinah”,dalam Samsul Nizar (ed.),Sejarah Pendidikan Islam MenelusuriJejak Sejarah Rasulullah Sampai indonesia, (Jakarta:Kencana,2007),hal 51

[16] Ibid, hal 51
[17] Ibid, hal 51
[18] Ibid, hal 51
[19] Ibid, hal 51
[20] Ibid, hal 51                    

[21] Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Logos,1999) ,hal 19

[22] Ibid, hal 20
[23]  Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia,1997), hal  14
[24] Ahmad Tafsir,Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam,(Bandung:Rosdakarya,1992),hal 53
Lihat, Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Logos,1999) ,hal 71-72
[25] Hasan Langgulung,Azas-Azas Pendidikn Islam,(Jakarta:Pustaka al-Husna,1992), cet. II,hal 118
Lihat, Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Logos,1999) ,hal 73

[26] Ahmad Amin,Zuhr al-Islam,(Kairo:al-Nahdah al-Misriyyah,1996),jilid II,hal 129
[27] Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta : Logos,1999) ,hal 78
[28] Ibid, hal 87-88
[29] Ibid, hal 90-91
[30] Ibid, hal 91-92

Tidak ada komentar:

Posting Komentar