MANUSIA DALAM PANDANGAN
TASAWUF
by: sukatno_man2madiun
A. Pendahuluan
Insan (manusia)
adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan.
Sebagaimana firman Allah
(QS. At-Tin ayat 3) :
لَقَدْ خَلَقْنَاالْاِنْسَنَ
فِى أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah
yang memiliki peran ganda, peran sebagai ‘abid seperti
terindikasikan dalam ungkapan amanu dan peran sebagai khalifah seperti
terindikasikan dalam ungkapan wa ‘amilu as-shalihat. Konsep ‘abid menunjukan
hubungan vertikal (hablum minallah), dan itu lebih bersifat personal.
Sementara konsep khalifah, terkait dengan tanggung jawab sosial, hubungan
horizontal (hablum minannas). Kalau ‘abid itu tanggung jawab
personal dengan Tuhan, sedang khalifah itu adalah tanggung jawab sosial dalam
hubungannya dengan sesama manusia. Karena Allah selalu menggandengkan dua
kalimat itu hampir di semua ayat-ayat-Nya, manusia unggulan akan selalu
melakukan kedua peran itu secara bersamaan.
Secara biologis manusia mempunyai
beberapa unsur antara lain: mineral termasuk didalamnya materi yang mengandung
atom dengan segala dayanya, tumbuh-tumbuhan yaitu daya nabati antara lain makan (nutrition), tumbuh (growth),
dan berkembang biak (reproduction),
unsur hewan yang terdiri dari: penginderaan (sense perception) dan gerak (harakah,
locomation).[1] Disamping itu yang pasti dan harus dimiliki oleh manusia yaitu jiwa (daya)
insani yang di sinilah terletak intelektualitas, moralitas, dan rasa seni.
Ruhani adalah yang mengendalikan, dan memberikan visi dan nilai
bimbingan-bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani, dan insani.[2]
Dari sini dapat di lihat bahwa manusia merupakan puncak evolusi yaitu manusia
telah mencapai tingkat kesempurnaan penuh.
Namun dari aspek spiritual atau ditinjau dari kacamata Islam, karena
manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani maka kesempurnaan manusia
meliputi kedua aspek tersebut. Dari aspek jasmani sudah tampak kesempurnaan
manusia dibanding makhluk Allah yang lain. Dalam kesempurnaan manusia ini aspek
rohani lebih kuat pengaruhnya dan manusia akan mencapai puncak evolusi ketika
ia telah mencapai kesatuan dengan Tuhan. Peringkat manusia sebagai makhluk
terbaik, termulia dengan kualitas fisik dan psikisnya diciptakan oleh Allah
dengan tujuan tertentu anatara lain: agar manusia menjadi hamba (’abid)-Nya
yang baik, sekaligus menjadi khalifah-Nya di muka bumi, serta bertanggung jawab
terhadap apa yang diperbuatnya selama hidup di dunia ini.
Pandangan-pandangan tentang manusia juga lahir dari dunia barat. Nietzsche
berpendapat bahwa seseorang bisa dikatakan sempurna ketika ia telah
mendapatkan kekuasaan dan kebebasan secara penuh. Sedangkan menurut Arthur
Schopenhauer manusia akan mencapai kesempurnaan ketika ia telah menemui
kamatian. Kedua pendapat diatas jika dianalisis maka akan tampak kekurangannya
yaitu unsur jasmani lebih ditonjolkan dan cenderung fatalistik, disamping itu
kedua pendapat tersebut sangat dangkal dalam memahami eksistensi manusia.
B.
Rumusan Masalah
Manusia
merupakan kajian menarik yang penuh misteri, mengkaji tentang manusia tidak
akan pernah ada habisnya. Dan yang menarik adalah menyangkut pencapaian
kesempurnaan manusia. Dari uraian tersebut di atas maka dalam makalah ini dapat
saya rumuskan satu permasalahan yaitu ”Bagaimana manusia menurut pandangan
Tasawuf”.
C. Pembahasan
1.
Pengertian
Tasawuf
Secara
etimologi ada bebarapa definisi yang muncul mengenai asal kata tasawuf adalah sebagai berikut:
a.
Tasawuf
berasal dari istilah “أَهْلُ الصُّفَّةِ”
yang berarti sekelompok orang pada masa Rasulullah SAW yang hidupnya diisi
dengan banyak berdiam diserambi-serambi
masjid, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk mengabdi kepada Allah. SWT.
b. Tasawuf berasal dari kata “صَفَـاءٌ”
yang berarti orang-orang yang menyucikan dirinya dihadapan Tuhan-Nya.
c. Tasawuf berasal dari dari kata “صَفٌّ”
yang nisbahkan kepada orang-orang yang ketika sholat selalu berada pada barisan
paling depan.
d. Tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang Bani Syuffah.
e. Tasawuf berasal dari kata “صُـوْفْنَـةٌ”
yang berarti sebangsa buah-buahan yang berbulu, yang banyak sekali tumbuh
dipadang pasir ditanah Arab. Dan pakaian kaum sufi itu berbulu seperti buah itu
pula sebagai bentuk kesederhanaan.
f.
Tasawuf
berasal dari kata “صُـوْفٌ” yang
berarti bulu domba atau wol.
g. Ada juga yang berpendapat tasawuf berasal dari kata
Theoshopi berasal dari bahasa Yunani, (theo: Tuhan; shopos: hikmah): yang
berarti hikmah atau kearifan ketuhanan.
Dari
beberapa pengertian diatas, yang banyak diakui kedekatanya dengan makna tasawuf
adalah berasal dari kata صُـوْفٌ. Diantara
mereka yang lebih cenderung mengakui pengertian tersebut adalah al-Kalabadhi,
al-Shuhrawardi, al-Qushayri, dan lainya. Walaupun dalam kenyataanya tidak
setiap kaum sufi memakai kain wol. Yang dimaksud bukanlah wol dalam arti
modern, wol yang dipakai orang-orang kaya, tetapi wol primitive dan kasar yang
dipakai di zaman dahulu oleh miskin di Timur Tengah.
2.
Definisi
Tasawuf
Begitu pula
definisi tasawuf secara terminologi para ahli tasawuf juga berbeda pendapat
dalam mendifinisikannya.
a.
Ma’ruf
al-Karkhi (w. 200 H/816 M) berpendapat bahwa tasawuf adalah mengambil hakikat
dan tidak berharap apa yang ada ditangan makhluk. Pengertian yang hampir sama
juga dikemukakan oleh Dhunnun al-Misri (w. 246 H/861 M) dan al-Sibli (w. 334
H/946 M).
b.
Al-Junayd (w.
297H/910 M) berpendapat bahwa tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa
pertalian dengan apapun. Lebih lanjut beliau mengatakan tasawuf adalah
mensucikan hati dari apa saja yang mengganggu perasaan makhluk, memisahkan hati
dari akhlaq alami. Menekan sifat-sifat insani. Menjauhkan
diri dari pengaruh nafsu. Masuk pada sifat-sifat ruhani. Berpedoman pada ilmu
hakikat. Menggunakan yang terbaik untuk kekekalan. Memberi petunjuk pada semua ummat. Percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan mengikuti
seluruh shari’ah yang diajarkan Rasulullah SAW.
Dari
pengertian al-Junayd tersebut, kita dapat meringkas pengertian tasawuf sebagai
berikut: Ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan
diri berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat
menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada
janji Allah SWT dan mengikuti Rasulullah SAW dalam mendekatkan diri dan
mencapai keridaan-Nya.
Jadi pada intinya tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan seseorang dari pengaruh kehidupan dunia sehingga dia mempunyai akhlaq yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.
Jadi pada intinya tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan seseorang dari pengaruh kehidupan dunia sehingga dia mempunyai akhlaq yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.
Pendekatan
definitif terhadap arti tasawuf secara garis besar dapat
diklasifikasikan dalam dua kelompok. Kelompok pertama memberi aksentuasi moral,
sedang kelompok kedua memberi aksentuasi mistik. Definisi Al-Junaid tentang
tasawuf dalam hal ini mewakili kelompok pertama, sedang definisi Ibn-Khaldun
mewakili kelompok kedua.[3]
Definisi tasawuf menurut
Al-Junaid :
“Tasawuf ialah keluar dari budi perangai
yang tercela dan masuk kepada budi
perangai yang terpuji”.
Definisi tasawuf menurut
Ibn-Khaldun:
“Tasawuf itu adalah semacam ilmu syar’iyah
yang timbul kemudian dalam agama.
Asalnya ialah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap
kepada Allah semata. Menolak hiasan-hiasan
dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya
orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri
menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah”.
Tasawuf
mempunyai karakter khas yang membedakannya dari mistisisme lain. Pertama, apabila
kedua definisi tentang tasawuf di atas diperhatikan dan dipahami secara utuh,
maka akan tampak selain berorientasi spiritual, tasawuf juga berorientasi
moral.[4]
3.
Konsep
ajaran Tasawuf
Berdasarkan konsep ajarannya tasawuf
adalah suatu bidang ilmu keislaman dengan berbagai pembagian di dalamnya, yaitu
Tasawuf Akhlaqi, Tasawuf Amali dan Tasawuf Falsafi.[5]
a.
Tasawuf
Akhlaqi berupa ajaran mengenai moral/akhlak yang hendaknya
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang
optimal. Ajaran yang terdapat dalam tasawuf ini meliputi Takhalli, yaitu
penyucian diri dari sifat-sifat tercela. Tahalli, yaitu menghiasi dan
membiasakan diri dengan sikap perbuatan terpuji dan Tajalli, yaitu
tersingkapnya Nur Ilahi (Cahaya Tuhan) seiring dengan sirnanya
sifat-sifat kemanusiaan pada diri manusia setelah tahapan takhalli dan tahalli
dilalui.
b.
Tasawuf Amali berupa
tuntunan praktis tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Ini
identik dengan Tarekat, sehingga bagi mereka yang masuk tarekat
akan memperoleh bimbingan semacam itu.
c.
Tasawuf
Falsafi berupa kajian tasawuf yang dilakukan secara mendalam
dengan tinjauan filosofis dengan segala aspek yang terkait di dalamnya. Dalam Tasawuf
Falsafi ini dipadukan visi intuitif tasawuf dan visi rasional filsafat.
Dari ketiga
bagian tasawuf tersebut, secara esensial semua bermuara pada penghayatan
terhadap ibadah murni (mahdlah) untuk mewujudkan akhlak al-karimah
baik secara individual maupun sosial.
Berdasarkan
tujuan dari tasawuf tersebut, yaitu berupaya membentuk watak manusia yang
memiliki sikap mental dan perilaku yang baik (akhlaqul karimah). Manusia
yang bermoral dan memiliki etika serta sopan santun, baik terhadap diri
pribadi, orang lain, lingkungan dan Tuhan, maka semua orang wajib belajar
tasawuf (Tasawuf Akhlaqi).
4.
Manusia
menurut pandangan Tasawuf
Manusia dalam pandangan beberapa tokoh tasawuf adalah sebagai berikut:
a.
Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah
pengantar (Murtadha Muthahhari, 1994) mengatakan bahwa manusia merupakan
miniatur dari alam raya. Jika pada alam raya terdapat tiga tingkat alam yaitu :
rohani, khayali, dan jasmani, maka pada manusia ketiga alam tersebut juga
terwujud yaitu dalam bentuk ruh, nafs (diri), dan jism (tubuh). Tingkatan alam
ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan. Ruh adalah bagian yang
paling terang dan jism adalah bagian yang paling gelap, sedangkan nafs adalah
jembatan yang menghubungkan antara keduanya.
b.
Abbas Mahmud al-Aqqad,[6] mencoba merumuskan definisi Qur’ani bahwa manusia adalah makhluk yamg
terbebani (mukallaf) dan makhluk yang diciptakan sesuai dengan bentuk (shurah)
Tuhan atau dalam bentuk “copi”Nya. Definisi ini sesuai dengan sebuah hadits
yang berbunyi :
إِنَّ اللهَ
خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ
c.
Al-Hallaj berpendapat bahwa manusia
terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani terdiri dari
materi, sedangkan unsur rohani dari Tuhan, Karena itulah manusia mempunyai
sifat kemanusiaan (nasut) dan ketuhanan (lahut)[7].
Konsep al-Hallaj tentang manusia bermuara dari doktrin al-hulul,
yang ketika hulul lidah al-Hallaj mengucapkan “Anal-Haqq”. Menurutnya
manusia (adam) adalah sebagai penampakan lahir dari citra Tuhan yang azali
kepada zat-Nya yang mutlak yang tidak mungkin di sifatkan itu. Lebih jauh al-Hallaj
berpendapat bahwa Allah mempunyai dua unsur dasar yaitu sifat ketuhanan (lahut)
dan sifat kemanusiaan (nasut), demikian juga manusia.[8]
Sehingga mungkin saja terjadi penyatuan antara Allah dan manusia dan hal itu
akan terjadi ketika manusia telah membersihkan batinnya sehingga sifat-sifat
kemanusiaan lebur ke dalam sifat-sifat ketuhanan, kejadian itu dinamakan hulul.
Saat itulah manusia telah mencapai derajat kesempurnaanya.
Disamping itu al-Hallaj juga mengemukakan teori “Nur Muhammad (al-haqiqah
al-Muhammadiyah).[9]
Baginya Nabi Muhammad mempunyai dua esensi. Pertama esensinya sebagai nur
(cahaya) azali yang qadim yang menjadi sumber segala ilmu dan ma’rifat,
pandangan ini sesuai dengan hadits qudsi yang mengatakan ”Kalau bukan karenamu
tidak akan ku ciptakan alam semesta ini”. Kedua Muhammad sebagai esensi
baru yang terbatas dalam ruang dan waktu. Dan Nabi
Muhammad adalah contoh manusia sempurna dalam Islam.
d.
Ibnu Arabi, penyusun faham Wahdah Al-wujud. Aliran ini
pada dasarnya berlandaskan pada perasaan, sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata:
"maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu
dan dia adalah sesuatu itu".[10]
Wahdah Al-wujud dapat berarti penyatuan eksistensi atau penyatuan dzat. Sehingga yang ada
atau segala yang wujud adalah Tuhan (Tuhan telah
bersatu dengan alam/segala
sesuatu). Dalam mengomentari pernyataan
tersebut, Harun Nasution
mengatakan bahwa Wahdah Al-wujud berarti kesatuan wujud, unity of
existence. Faham ini adalah kelanjutan dari faham hulul yang dibawa oleh Muhyiddin
Ibnu Arabi.[11] Dalam
teori tentang wujud, Ibnu Arabi mempercayai terjadinya emanasi, yaitu
Allah menampakkan sesuatu dari wujud materi. Berikut ini
adalah beberapa pernyataan Ibnu Arabi yang mengandung ide wahdah
al-wujud.[12]
"….wujud tidak lain adalah dari al-haq
karena tidak ada sesuatu yang berwujud kecuali dia",
"tiada yang tampak dalam wujud
melalui wujud kecuali al-haq, karena wujud itu adalah al-haq….."
e.
Al-Ghazali memandang manusia hanyalah yang mempunyai identitas esensial,
yang mana Al-Ghazali mempunyai pemikiran bahwa identitas esensial manusia
adalah al-nafs (jiwa)[13].
Al-nafs mempunyai pengertian substansi yang berdiri sendiri, berasal dengan
dunia yang sangat dekat dengan Tuhan (alam al-amr), tidak bertempat, tidak terbagi-bagi,
mempunyai kemampuan mengetahui, bersifat kekal, dan diciptakan. Untuk
membuktikan adanya substansi immaterial yang disebut al-nafs, Al-Ghazali
mengemukakan argumen, bahwa kalau al-nafs tidak ada maka persoalan kenabian,
ganjaran perbuatan, dan kabar hari akhirat tidak dapat dipahami. Yang dapat memahami semua itu bukanlah sesuatu yang fisik,
melainkan non fisik. Jika sesuatu yang fisik dapat memahami, maka sesuatu yang
bersifat fisik lainnya juga mempunyai kemampuan untuk memahami, tapi kenyataan itu tidak benar. Maka yang dapat memahami hanyalah
yang bersifat immaterial. Persoalan-persoalan kenabian, ganjaran perbuatan dan
hal-hal yang masuk pada kategori metafisik akan bisa dimengerti melalui media
yang metafisik pula.
Berdiri sendiri atau tunggal dan tidak bertempat
merupakan sifat al- nafs. Disebut berdiri sendiri karena al-nafs tidak
membutuhkan sesuatu yang lain untuk keberadaanya, kalau al-nafs membutuhkan
adanya tempat untuk keberadaannya yang dalam hal ini tempat itu adalah tubuh
yang bersifat materi, maka al-nafs juga bersifat materi, dan itu bertentangan
dengan sifat dasarnya. Dan ketika tubuh yang bersifat materi itu hancur tidak
mungkin sekali jiwa juga ikut hancur dan terbagi-bagi, karena jiwa bersifat
kekal dan tidak terbagi-bagi.
Dikatakan mempunyai kemampuan
mengetahui karena manusia memiliki semua apa yang dimiliki tumbuhan dan hewan, sekaligus memiliki apa
yang tidak dimiliki oleh tumbuhan dan hewan, manusia memiliki prinsip al-nafs
al-insaniyyat yaitu, kemampuan berfikir (lahu ta’aqqul) dan mempunyai pilihan
berbuat dan tidak berbuat (ikhtiyar fi al- fi’l wa al-tark). Berkaitan dengan kemampuan jiwa, Al - Ghazali menambahkan jiwa
vegetatif (al-nafs al-nabatiyyat) dan jiwa sensitif (al- nafs al-hayawaniyyat)
sebagai bagian dari jiwa manusia.
Al-nafs diciptakan ketika sel benih telah menyatu
dengan sel telur wanita (al-nuthfat) yang telah memenuhi syarat untuk
menerimanya.
Penciptaan al-nafs “dalam” al-nuthfat disebutnya al-nafkh . Al-nuthfat V dapat diartikan dari dua segi. Dilihat dari tuhan,
al-nafkh adalah al-jud al- ilahi (kemurahan tuhan) yang memberi wujud pada
segala sesuatu yang mempunyai sifat menerima wujud. Al-jud ini mengalir dengan
sendiri-Nya atas segala hakikat yang diadakan-Nya. Dari segi al-nuthfat,
al-nafkh bermakna kesempurnaan kondisi untuk menerima, sehingga al-nafs
tercipta pada al-nuthfat itu oleh Tuhan, tanpa terjadi perubahan pada Tuhan.
Dalam
salah satu karangannya Al-Ghazali menyebutkan bahwa manusia terdiri dari al-nafs (jiwa), al-ruh,
dan al-jism (badan).[14]
Tiga komposisi mempunyai hubungan yang tidak bisa terpisahkan, karena
jika salah satu dari tiga komposisi ini tidak ada, maka keberadaan manusia
tidak nampak atau dengan kata lain tidak dapat disebut sebagai manusia.
f.
Abu Yazid
Al-Busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh
karena itu manusia hilang kesadaranya (sebagai manusia) maka pada dasarnya ia
telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu Nur Ilahi atau dengan kata
lain ia menyatu dengan Tuhan.[15]
Beliau seorang tokoh pembawa faham ittihad. Ittihad adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Ittihad
merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan
antara dua ekssistensi. Kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang
berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan
Tuhan. Ketika Abu Yazid sedang dalam keadaan ittihad, ia berkata ; "Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku. Karena itu sembahlah
aku. Maha suci aku, maha besar aku, aku keluar dari diri Abu Yazid sebagaimana
ular keluar dari kulitnya. Tampaknya olehku bahwa sang pecinta (al-Asyiq) dan yang dicinta (al-ma'syu) serta cinta (al-isyq) adalah satu kesatuan".[16]
Dalam ungkapan yang lain Abu Yazid
berkata : "maha suci aku, maha suci aku, alangkah maha agungnya aku ".[17] Dan ia beliau pula di waktu yang lain berkata: "Pernah
Tuhan mengangkat aku dan ditegakkannya aku dihadapan-Nya sendiri. Maka
berkatalah Dia kepadaku ; " Hai Abu
Yazid! Makhluk-ku ingin melihat engkau. Lalu aku berkata : Hiasilah aku dengan
wahdaniat-Mu, pakaikanlah kepadaku pakaian ke-akuan-Mu, angkatlah aku kedalam
ke-satuan-mu. Sehingga apabila makhluk-Mu melihat aku. Mereka akan berkata: Kami telah melihat engkau. Maka Engkaulah itu dan aku tidak ada
disana".[18]
Itulah kaum sufi falsafi, mereka
meyakini bahwasannya alam semesta ini hanyalah bayangan fatamorgana dan biasan
dari zat Allah. Semua yang ada ini adalah wujud Allah, jelmaan Allah. Sehingga
bagi mereka (kaum sufi falsafi) manusia, jin, pepohonan, bebatuan, cacing,
hewan melata, burung-burung, atau bahkan anjing dan babipun, semuanya adalah
jelmaan Allah.
D. Kesimpulan
Dari uraian di atas maka manusia menurut pandangan tasawuf dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Eksistensi manusia dalam perspektif
tasawuf dimaknai dalam dua hal.
Pertama, eksistensi manusia
dimaknai sebagai keberadaan manusia berhadapan dengan Tuhan. Dalam konteks
ini, manusia sebagai eksisten adalah wakil Tuhan di bumi. Subjek yang
mengemban amanah menjaga kemaslahatan bumi sesuai kehendak Tuhan. Kedua,
eksistensi manusia dimaknai sebagai cara berada manusia yang bertolak
dari kesadaran diri sebagai wakil Tuhan di bumi.
2. Untuk memahami kehendak Tuhan manusia
mesti berusaha mendekatkan diri
dengan
Tuhan melalui pengabdian total.
3. Kedekatan diri manusia dengan Tuhan
adalah orientasi setiap aliran tasawuf, bahkan tasawuf falsafi memahami dan
memaknai kedekatan hubungan Tuhan-manusia lebih jauh lagi. Semakin dekat diri
manusia dengan Tuhan makin
sempurna
dirinya sebagai khalifah Tuhan, makin teguh eksistensinya.
4. Perbedaan prosedur dalam upaya mencapai
kedekatan dengan Tuhan bukanlah
perbedaan
yang prinsipil. Perbedaan itu justru menunjukkan adanya peluang untuk saling
melengkapi.
5. Aksentuasi sosial, di samping aksentuasi
moral-spiritual memposisikan
prosedur
mistis sebagai
alternatif bagi manusia untuk mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya
dan meneguhkan diri sebagai eksisten.
6. Persoalan metafisik dalam tasawuf
falsafi belum merupakan perbincangan
final.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, 2000, Aja’ib Al-Qalb (bagian dari Ihya’ Ulum Ad Din),diterjmahkan oleh M. Al-Baqir, Karisma, Bandung
Ali , Yunasril,
1997, Manusia
Citra Ilahi, Paramadina,
Jakarta
Amin Syukur, H.M., 2002, R.A. Nicholson dalam H.M. Amin
Syukur, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Amin Syukur, H. M., 2003, Tasawuf Kontekstual, Solusi
Problem Manusia Modern, ed., Mohammad Nor Ichwan, Muhammad Masrus, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta
Atang Abd.
Hakim dan Jaih Mubarok, 2000, Metodologi Studi Islam, Cet. III
(Ed. Revisi), Remaja Rosda Karya, Bandung
Burhani,
Ahmad Najib, 2002, "Tarekat" Tanpa Tarekat: Jalan
baru menuju sufi, cetakan I, Serambi
Hamka,
1990, Tasawuf Moderen, Pustaka
Panjimas, Jakarta
Hamka, 1993, Tasawuf-
Perkembangan dan Pemurniannya, cet. VIII, Panjimas, Jakarta
Hamka, 1994, Tasawuf
Perkembangan dan Pemurniannya, cetakan XVIII, Pustaka
Panjimas, Jakarta.
Hilal, Ibrahim, 2002, At-Tashawwus al-Islami Baina
ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdin cet. 1, Pustaka
Hidayah, Bandung
Ibnu Arabi,
1972, Al-Futuhat Al-Makkiyah, ditahqiq oleh Usman Yahya, al-Hayat
al-Misriyah, Kairo
Kaida, 2003, Abu Yazid Al-Busthami, Nuqtoh II
Kartanegara, Mulyadhi, 2002, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam, Cetakan Pertama,
Misan Pustaka, Bandung
Lidinillah, Mustofa
Anshori, 1995, Tasawuf
dan Keterlibatan Sosial Sufi, Lembaga Penelitian
UGM, Yogyakarta
Mahmud , Abbas, 2002, Al-Aqqad (1996) dalam buku Menggugat Tasawuf H.M.
Amin Syukur, Pustaka
Pelajar,Yogyakarta
Muniron, 1999, Pandangan
Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Vol I,
No. 2, Paramadina, Jakarta
Nafis , M. Kholis, 2002, Konsep
Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi
Nasution, Harun, 1995, Filsafat dan
Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang Jakarta
Nasution, M. Yasir, 1988, Manusia Menurut Al-Ghazali, Srigunting, Jakarta
Nasution, Harun, 1995, Filsafat dan
Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta
[1] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam Cetakan Pertama, (Bandung
: Misan, 2002) hal
-
[2] Ahmad Najib Burhani, "Tarekat"
Tanpa Tarekat: Jalan baru menuju sufi cetakan I,( - : Serambi , 2002), hal -
[4] Mustofa
Anshori Lidinillah,Tasawuf
dan Keterlibatan Sosial Sufi,(Yogyakarta: Lembaga Penelitian UGM,1995), hal 27
[5] H.M. Amin Syukur, Tasawuf Kontekstual,
Solusi Problem Manusia Modern, ed., Mohammad Nor Ichwan, Muhammad Masrus,(Yogyakarta:
Pustaka Pelajar,2003), hal 1-2
Lihat
Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi
Islam, Cet. III (Ed. Revisi), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), hal 63
[6] Abbas
Mahmud al-Aqqad,1996, dalam buku Menggugat Tasawuf H.M. Amin Syukur, (Yogyakarta: Pustaka Pelaja,2002),
hal -
[8] Muniron, Pandangan
Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina,
Vol I, No. 2, (Jakarta: Paramadina, 1999), hal 145
[12] Ibnu Arabi, Al-Futuhat
Al-Makkiyah, ditahqiq oleh Usman Yahya, (Kairo: al-Hayat al-Misriyah, 1972), hal 516-519
[13] Al-Ghazali,
Aja’ib Al-Qalb (bagian dari
Ihya’ Ulum Ad Din),diterjmahkan oleh M. Al-Baqir, (Bandung: Karisma, 2000), hal 75
[16] Ibrahim Hilal, At-Tashawwus al-Islami Baina ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdin cet. 1, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hal 23
Tidak ada komentar:
Posting Komentar