Jumat, 06 April 2012

Makalah Filsafat Pendidikan Islam


MANUSIA DALAM PANDANGAN TASAWUF
by: sukatno_man2madiun

A.  Pendahuluan
Insan (manusia) adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya penciptaan. Sebagaimana firman Allah  (QS. At-Tin ayat 3) :   
لَقَدْ خَلَقْنَاالْاِنْسَنَ فِى أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki peran ganda, peran sebagai ‘abid seperti terindikasikan dalam ungkapan amanu dan peran sebagai khalifah seperti terindikasikan dalam ungkapan wa ‘amilu as-shalihat. Konsep ‘abid menunjukan hubungan vertikal (hablum minallah), dan itu lebih bersifat personal. Sementara konsep khalifah, terkait dengan tanggung jawab sosial, hubungan horizontal (hablum minannas). Kalau ‘abid itu tanggung jawab personal dengan Tuhan, sedang khalifah itu adalah tanggung jawab sosial dalam hubungannya dengan sesama manusia. Karena Allah selalu menggandengkan dua kalimat itu hampir di semua ayat-ayat-Nya, manusia unggulan akan selalu melakukan kedua peran itu secara bersamaan.
Secara biologis manusia mempunyai beberapa unsur antara lain: mineral termasuk didalamnya materi yang mengandung atom dengan segala dayanya, tumbuh-tumbuhan yaitu daya nabati antara lain makan (nutrition), tumbuh (growth), dan berkembang biak (reproduction), unsur hewan yang terdiri dari: penginderaan (sense perception) dan gerak (harakah, locomation).[1] Disamping itu yang pasti dan harus dimiliki oleh manusia yaitu jiwa (daya) insani yang di sinilah terletak intelektualitas, moralitas, dan rasa seni. Ruhani adalah yang mengendalikan, dan memberikan visi dan nilai bimbingan-bimbingan kepada jiwa-jiwa nabati, hewani, dan insani.[2] Dari sini dapat di lihat bahwa manusia merupakan puncak evolusi yaitu manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan penuh.
Namun dari aspek spiritual atau ditinjau dari kacamata Islam, karena manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani maka kesempurnaan manusia meliputi kedua aspek tersebut. Dari aspek jasmani sudah tampak kesempurnaan manusia dibanding makhluk Allah yang lain. Dalam kesempurnaan manusia ini aspek rohani lebih kuat pengaruhnya dan manusia akan mencapai puncak evolusi ketika ia telah mencapai kesatuan dengan Tuhan. Peringkat manusia sebagai makhluk terbaik, termulia dengan kualitas fisik dan psikisnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan tertentu anatara lain: agar manusia menjadi hamba (’abid)-Nya yang baik, sekaligus menjadi khalifah-Nya di muka bumi, serta bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya selama hidup di dunia ini.
Pandangan-pandangan tentang manusia juga lahir dari dunia barat. Nietzsche berpendapat bahwa seseorang bisa dikatakan sempurna ketika ia telah mendapatkan kekuasaan dan kebebasan secara penuh. Sedangkan menurut Arthur Schopenhauer manusia akan mencapai kesempurnaan ketika ia telah menemui kamatian. Kedua pendapat diatas jika dianalisis maka akan tampak kekurangannya yaitu unsur jasmani lebih ditonjolkan dan cenderung fatalistik, disamping itu kedua pendapat tersebut sangat dangkal dalam memahami eksistensi manusia.

B.   Rumusan Masalah
Manusia merupakan kajian menarik yang penuh misteri, mengkaji tentang manusia tidak akan pernah ada habisnya. Dan yang menarik adalah menyangkut pencapaian kesempurnaan manusia. Dari uraian tersebut di atas maka dalam makalah ini dapat saya rumuskan satu permasalahan yaitu ”Bagaimana manusia menurut pandangan Tasawuf”.

C.  Pembahasan
1.    Pengertian Tasawuf
Secara etimologi ada bebarapa definisi yang muncul mengenai asal kata tasawuf adalah sebagai berikut:
a.       Tasawuf berasal dari istilah “أَهْلُ الصُّفَّةِ” yang berarti sekelompok orang pada masa Rasulullah SAW yang hidupnya diisi dengan banyak berdiam diserambi-serambi masjid, dan mereka mengabdikan hidupnya untuk mengabdi kepada Allah. SWT.
b.      Tasawuf berasal dari kata “صَفَـاءٌ” yang berarti orang-orang yang menyucikan dirinya dihadapan Tuhan-Nya.
c.       Tasawuf berasal dari dari kata “صَفٌّ” yang nisbahkan kepada orang-orang yang ketika sholat selalu berada pada barisan paling depan.
d.      Tasawuf dinisbahkan kepada orang-orang Bani Syuffah.
e.       Tasawuf berasal dari kata “صُـوْفْنَـةٌ” yang berarti sebangsa buah-buahan yang berbulu, yang banyak sekali tumbuh dipadang pasir ditanah Arab. Dan pakaian kaum sufi itu berbulu seperti buah itu pula sebagai bentuk kesederhanaan.
f.        Tasawuf berasal dari kata “صُـوْفٌ” yang berarti bulu domba atau wol.
g.       Ada juga yang berpendapat tasawuf berasal dari kata Theoshopi berasal dari bahasa Yunani, (theo: Tuhan; shopos: hikmah): yang berarti hikmah atau kearifan ketuhanan.
Dari beberapa pengertian diatas, yang banyak diakui kedekatanya dengan makna tasawuf adalah berasal dari kata صُـوْفٌ. Diantara mereka yang lebih cenderung mengakui pengertian tersebut adalah al-Kalabadhi, al-Shuhrawardi, al-Qushayri, dan lainya. Walaupun dalam kenyataanya tidak setiap kaum sufi memakai kain wol. Yang dimaksud bukanlah wol dalam arti modern, wol yang dipakai orang-orang kaya, tetapi wol primitive dan kasar yang dipakai di zaman dahulu oleh miskin di Timur Tengah.

2.    Definisi Tasawuf
Begitu pula definisi tasawuf secara terminologi para ahli tasawuf juga berbeda pendapat dalam mendifinisikannya.
a.       Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H/816 M) berpendapat bahwa tasawuf adalah mengambil hakikat dan tidak berharap apa yang ada ditangan makhluk. Pengertian yang hampir sama juga dikemukakan oleh Dhunnun al-Misri (w. 246 H/861 M) dan al-Sibli (w. 334 H/946 M).
b.      Al-Junayd (w. 297H/910 M) berpendapat bahwa tasawuf adalah bersama dengan Tuhan tanpa pertalian dengan apapun. Lebih lanjut beliau mengatakan tasawuf adalah mensucikan hati dari apa saja yang mengganggu perasaan makhluk, memisahkan hati dari akhlaq alami. Menekan sifat-sifat insani. Menjauhkan diri dari pengaruh nafsu. Masuk pada sifat-sifat ruhani. Berpedoman pada ilmu hakikat. Menggunakan yang terbaik untuk kekekalan. Memberi petunjuk pada semua ummat. Percaya sepenuhnya kepada Tuhan dan mengikuti seluruh shari’ah yang diajarkan Rasulullah SAW.
Dari pengertian al-Junayd tersebut, kita dapat meringkas pengertian tasawuf sebagai berikut: Ilmu tasawuf adalah ilmu yang mempelajari usaha-usaha membersihkan diri berjuang memerangi hawa nafsu, mencari jalan kesucian dengan ma’rifat menuju keabadian, saling mengingatkan antar manusia, serta berpegang teguh pada janji Allah SWT dan mengikuti Rasulullah SAW dalam mendekatkan diri dan mencapai keridaan-Nya.
Jadi pada intinya tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan seseorang dari pengaruh kehidupan dunia sehingga dia mempunyai akhlaq yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.
Pendekatan definitif terhadap arti tasawuf secara garis besar dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok. Kelompok pertama memberi aksentuasi moral, sedang kelompok kedua memberi aksentuasi mistik. Definisi Al-Junaid tentang tasawuf dalam hal ini mewakili kelompok pertama, sedang definisi Ibn-Khaldun mewakili kelompok kedua.[3]
Definisi tasawuf menurut Al-Junaid :
Tasawuf ialah keluar dari budi perangai yang tercela dan masuk kepada budi perangai yang terpuji.

Definisi tasawuf menurut Ibn-Khaldun:
Tasawuf itu adalah semacam ilmu syar’iyah yang timbul kemudian dalam agama. Asalnya ialah bertekun ibadah dan memutuskan pertalian dengan segala selain Allah, hanya menghadap kepada Allah semata. Menolak hiasan-hiasan dunia, serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta-benda, dan kemegahan. Dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam khalwat dan ibadah”.

Tasawuf mempunyai karakter khas yang membedakannya dari mistisisme lain. Pertama, apabila kedua definisi tentang tasawuf di atas diperhatikan dan dipahami secara utuh, maka akan tampak selain berorientasi spiritual, tasawuf juga berorientasi moral.[4]

3.    Konsep ajaran Tasawuf
 Berdasarkan konsep ajarannya tasawuf adalah suatu bidang ilmu keislaman dengan berbagai pembagian di dalamnya, yaitu Tasawuf Akhlaqi, Tasawuf Amali dan Tasawuf Falsafi.[5]
a.    Tasawuf Akhlaqi berupa ajaran mengenai moral/akhlak yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan yang optimal. Ajaran yang terdapat dalam tasawuf ini meliputi Takhalli, yaitu penyucian diri dari sifat-sifat tercela. Tahalli, yaitu menghiasi dan membiasakan diri dengan sikap perbuatan terpuji dan Tajalli, yaitu tersingkapnya Nur Ilahi (Cahaya Tuhan) seiring dengan sirnanya sifat-sifat kemanusiaan pada diri manusia setelah tahapan takhalli dan tahalli dilalui.
b.    Tasawuf Amali berupa tuntunan praktis tentang bagaimana cara mendekatkan diri kepada Allah. Ini identik dengan Tarekat, sehingga bagi mereka yang masuk tarekat akan memperoleh bimbingan semacam itu.
c.    Tasawuf Falsafi berupa kajian tasawuf yang dilakukan secara mendalam dengan tinjauan filosofis dengan segala aspek yang terkait di dalamnya. Dalam Tasawuf Falsafi ini dipadukan visi intuitif tasawuf dan visi rasional filsafat.
Dari ketiga bagian tasawuf tersebut, secara esensial semua bermuara pada penghayatan terhadap ibadah murni (mahdlah) untuk mewujudkan akhlak al-karimah baik secara individual maupun sosial.
Berdasarkan tujuan dari tasawuf tersebut, yaitu berupaya membentuk watak manusia yang memiliki sikap mental dan perilaku yang baik (akhlaqul karimah). Manusia yang bermoral dan memiliki etika serta sopan santun, baik terhadap diri pribadi, orang lain, lingkungan dan Tuhan, maka semua orang wajib belajar tasawuf (Tasawuf Akhlaqi).

4.    Manusia menurut pandangan Tasawuf
Manusia dalam pandangan beberapa tokoh tasawuf  adalah sebagai berikut:
a.     Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah pengantar (Murtadha Muthahhari, 1994) mengatakan bahwa manusia merupakan miniatur dari alam raya. Jika pada alam raya terdapat tiga tingkat alam yaitu : rohani, khayali, dan jasmani, maka pada manusia ketiga alam tersebut juga terwujud yaitu dalam bentuk ruh, nafs (diri), dan jism (tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan. Ruh adalah bagian yang paling terang dan jism adalah bagian yang paling gelap, sedangkan nafs adalah jembatan yang menghubungkan antara keduanya.
b.    Abbas Mahmud al-Aqqad,[6] mencoba merumuskan definisi Qur’ani bahwa manusia adalah makhluk yamg terbebani (mukallaf) dan makhluk yang diciptakan sesuai dengan bentuk (shurah) Tuhan atau dalam bentuk “copi”Nya. Definisi ini sesuai dengan sebuah hadits yang berbunyi :
إِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ
c.       Al-Hallaj berpendapat bahwa manusia terdiri dari dua unsur yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani terdiri dari materi, sedangkan unsur rohani dari Tuhan, Karena itulah manusia mempunyai sifat kemanusiaan (nasut) dan ketuhanan (lahut)[7]. Konsep al-Hallaj tentang manusia bermuara dari doktrin al-hulul, yang ketika hulul lidah al-Hallaj mengucapkan “Anal-Haqq”. Menurutnya manusia (adam) adalah sebagai penampakan lahir dari citra Tuhan yang azali kepada zat-Nya yang mutlak yang tidak mungkin di sifatkan itu. Lebih jauh al-Hallaj berpendapat bahwa Allah mempunyai dua unsur dasar yaitu sifat ketuhanan (lahut) dan sifat kemanusiaan (nasut), demikian juga manusia.[8] Sehingga mungkin saja terjadi penyatuan antara Allah dan manusia dan hal itu akan terjadi ketika manusia telah membersihkan batinnya sehingga sifat-sifat kemanusiaan lebur ke dalam sifat-sifat ketuhanan, kejadian itu dinamakan hulul. Saat itulah manusia telah mencapai derajat kesempurnaanya.
Disamping itu al-Hallaj juga mengemukakan teori “Nur Muhammad (al-haqiqah al-Muhammadiyah).[9] Baginya Nabi Muhammad mempunyai dua esensi. Pertama esensinya sebagai nur (cahaya) azali yang qadim yang menjadi sumber segala ilmu dan ma’rifat, pandangan ini sesuai dengan hadits qudsi yang mengatakan ”Kalau bukan karenamu tidak akan ku ciptakan alam semesta ini”. Kedua Muhammad sebagai esensi baru yang terbatas dalam ruang dan waktu. Dan Nabi Muhammad adalah contoh manusia sempurna dalam Islam.
d.      Ibnu Arabi, penyusun faham Wahdah Al-wujud. Aliran ini pada dasarnya berlandaskan pada perasaan, sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata:
 "maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu dan dia adalah sesuatu itu".[10]

Wahdah Al-wujud dapat berarti penyatuan eksistensi atau penyatuan dzat. Sehingga yang ada atau segala yang wujud adalah Tuhan (Tuhan telah bersatu dengan alam/segala sesuatu). Dalam mengomentari pernyataan tersebut, Harun Nasution mengatakan bahwa Wahdah Al-wujud berarti kesatuan wujud, unity of  existence. Faham ini adalah kelanjutan dari faham hulul yang dibawa oleh Muhyiddin Ibnu Arabi.[11] Dalam teori tentang wujud, Ibnu Arabi mempercayai terjadinya  emanasi, yaitu Allah menampakkan sesuatu dari wujud materi. Berikut ini adalah beberapa pernyataan Ibnu Arabi yang mengandung  ide wahdah al-wujud.[12]
 "….wujud tidak lain adalah dari al-haq karena tidak ada sesuatu yang berwujud kecuali dia",

"tiada yang tampak dalam wujud melalui wujud kecuali al-haq, karena wujud itu adalah al-haq….."

e.       Al-Ghazali memandang manusia hanyalah yang mempunyai identitas esensial, yang mana Al-Ghazali mempunyai pemikiran bahwa identitas esensial manusia adalah al-nafs (jiwa)[13]. Al-nafs mempunyai pengertian substansi yang berdiri sendiri, berasal dengan dunia yang sangat dekat dengan Tuhan (alam al-amr), tidak bertempat, tidak terbagi-bagi, mempunyai kemampuan mengetahui, bersifat kekal, dan diciptakan. Untuk membuktikan adanya substansi immaterial yang disebut al-nafs, Al-Ghazali mengemukakan argumen, bahwa kalau al-nafs tidak ada maka persoalan kenabian, ganjaran perbuatan, dan kabar hari akhirat tidak dapat dipahami. Yang dapat memahami semua itu bukanlah sesuatu yang fisik, melainkan non fisik. Jika sesuatu yang fisik dapat memahami, maka sesuatu yang bersifat fisik lainnya juga mempunyai kemampuan untuk memahami, tapi kenyataan itu tidak benar. Maka yang dapat memahami hanyalah yang bersifat immaterial. Persoalan-persoalan kenabian, ganjaran perbuatan dan hal-hal yang masuk pada kategori metafisik akan bisa dimengerti melalui media yang metafisik pula.
Berdiri sendiri atau tunggal dan tidak bertempat merupakan sifat al- nafs. Disebut berdiri sendiri karena al-nafs tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk keberadaanya, kalau al-nafs membutuhkan adanya tempat untuk keberadaannya yang dalam hal ini tempat itu adalah tubuh yang bersifat materi, maka al-nafs juga bersifat materi, dan itu bertentangan dengan sifat dasarnya. Dan ketika tubuh yang bersifat materi itu hancur tidak mungkin sekali jiwa juga ikut hancur dan terbagi-bagi, karena jiwa bersifat kekal dan tidak terbagi-bagi.
Dikatakan mempunyai kemampuan mengetahui karena manusia memiliki semua apa yang dimiliki tumbuhan dan hewan, sekaligus memiliki apa yang tidak dimiliki oleh tumbuhan dan hewan, manusia memiliki prinsip al-nafs al-insaniyyat yaitu, kemampuan berfikir (lahu ta’aqqul) dan mempunyai pilihan berbuat dan tidak berbuat (ikhtiyar fi al- fi’l wa al-tark). Berkaitan dengan kemampuan jiwa, Al - Ghazali menambahkan jiwa vegetatif (al-nafs al-nabatiyyat) dan jiwa sensitif (al- nafs al-hayawaniyyat) sebagai bagian dari jiwa manusia.
Al-nafs diciptakan ketika sel benih telah menyatu dengan sel telur wanita (al-nuthfat) yang telah memenuhi syarat untuk menerimanya.
Penciptaan al-nafs “dalam” al-nuthfat disebutnya al-nafkh . Al-nuthfat V dapat diartikan dari dua segi. Dilihat dari tuhan, al-nafkh adalah al-jud al- ilahi (kemurahan tuhan) yang memberi wujud pada segala sesuatu yang mempunyai sifat menerima wujud. Al-jud ini mengalir dengan sendiri-Nya atas segala hakikat yang diadakan-Nya. Dari segi al-nuthfat, al-nafkh bermakna kesempurnaan kondisi untuk menerima, sehingga al-nafs tercipta pada al-nuthfat itu oleh Tuhan, tanpa terjadi perubahan pada Tuhan.
Dalam salah satu karangannya Al-Ghazali menyebutkan bahwa manusia terdiri dari al-nafs (jiwa), al-ruh, dan al-jism (badan).[14] Tiga komposisi mempunyai hubungan yang tidak bisa terpisahkan, karena jika salah satu dari tiga komposisi ini tidak ada, maka keberadaan manusia tidak nampak atau dengan kata lain tidak dapat disebut sebagai manusia.
f.        Abu Yazid Al-Busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh karena itu manusia hilang kesadaranya (sebagai manusia) maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu Nur Ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan.[15] Beliau seorang tokoh pembawa faham ittihad. Ittihad adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Ittihad merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan antara dua ekssistensi. Kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan. Ketika Abu Yazid sedang dalam keadaan ittihad, ia berkata ; "Aku adalah Allah, tidak ada Tuhan selain aku. Karena itu sembahlah aku. Maha suci aku, maha besar aku, aku keluar dari diri Abu Yazid sebagaimana ular keluar dari kulitnya. Tampaknya olehku bahwa sang pecinta  (al-Asyiq) dan yang dicinta (al-ma'syu) serta cinta (al-isyq) adalah satu kesatuan".[16]
Dalam ungkapan yang lain Abu Yazid berkata : "maha suci aku, maha suci aku, alangkah maha agungnya aku ".[17] Dan ia beliau pula di waktu yang lain berkata: "Pernah Tuhan mengangkat aku dan ditegakkannya aku dihadapan-Nya sendiri. Maka berkatalah Dia kepadaku ; " Hai Abu Yazid! Makhluk-ku ingin melihat engkau. Lalu aku berkata : Hiasilah aku dengan wahdaniat-Mu, pakaikanlah kepadaku pakaian ke-akuan-Mu, angkatlah aku kedalam ke-satuan-mu. Sehingga apabila makhluk-Mu melihat aku. Mereka akan berkata: Kami telah melihat engkau. Maka Engkaulah itu dan aku tidak ada disana".[18]
Itulah kaum sufi falsafi, mereka meyakini bahwasannya alam semesta ini hanyalah bayangan fatamorgana dan biasan dari zat Allah. Semua yang ada ini adalah wujud Allah, jelmaan Allah. Sehingga bagi mereka (kaum sufi falsafi) manusia, jin, pepohonan, bebatuan, cacing, hewan melata, burung-burung, atau bahkan anjing dan babipun, semuanya adalah jelmaan Allah.



D.  Kesimpulan
Dari uraian di atas maka manusia menurut pandangan tasawuf dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Eksistensi manusia dalam perspektif tasawuf dimaknai dalam dua hal.
Pertama, eksistensi manusia dimaknai sebagai keberadaan manusia berhadapan dengan Tuhan. Dalam konteks ini, manusia sebagai eksisten adalah wakil Tuhan di bumi. Subjek yang mengemban amanah menjaga kemaslahatan bumi sesuai kehendak Tuhan. Kedua, eksistensi manusia dimaknai sebagai cara berada manusia yang bertolak dari kesadaran diri sebagai wakil Tuhan di bumi.
2.      Untuk memahami kehendak Tuhan manusia mesti berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan melalui pengabdian total.
3.      Kedekatan diri manusia dengan Tuhan adalah orientasi setiap aliran tasawuf, bahkan tasawuf falsafi memahami dan memaknai kedekatan hubungan Tuhan-manusia lebih jauh lagi. Semakin dekat diri manusia dengan Tuhan makin sempurna dirinya sebagai khalifah Tuhan, makin teguh eksistensinya.
4.      Perbedaan prosedur dalam upaya mencapai kedekatan dengan Tuhan bukanlah perbedaan yang prinsipil. Perbedaan itu justru menunjukkan adanya peluang untuk saling melengkapi.
5.      Aksentuasi sosial, di samping aksentuasi moral-spiritual memposisikan prosedur mistis sebagai alternatif bagi manusia untuk mengaktualisasikan potensi kemanusiaannya dan meneguhkan diri sebagai eksisten.
6.      Persoalan metafisik dalam tasawuf falsafi belum merupakan perbincangan final.






DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, 2000, Aja’ib Al-Qalb (bagian dari Ihya’ Ulum Ad Din),diterjmahkan oleh M. Al-Baqir, Karisma, Bandung

Ali , Yunasril, 1997, Manusia Citra Ilahi, Paramadina, Jakarta

Amin Syukur, H.M., 2002, R.A. Nicholson dalam H.M. Amin Syukur,  Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Amin Syukur, H. M., 2003, Tasawuf Kontekstual, Solusi Problem Manusia Modern, ed., Mohammad Nor Ichwan, Muhammad Masrus, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, 2000, Metodologi Studi Islam, Cet. III (Ed. Revisi), Remaja Rosda Karya, Bandung

Burhani, Ahmad Najib, 2002, "Tarekat" Tanpa Tarekat: Jalan baru menuju sufi, cetakan I, Serambi 

Hamka, 1990, Tasawuf Moderen, Pustaka Panjimas, Jakarta

Hamka, 1993, Tasawuf- Perkembangan dan Pemurniannya, cet. VIII, Panjimas, Jakarta

Hamka, 1994, Tasawuf Perkembangan dan Pemurniannya, cetakan XVIII, Pustaka Panjimas, Jakarta.

Hilal, Ibrahim, 2002, At-Tashawwus al-Islami Baina ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdin cet. 1, Pustaka Hidayah, Bandung

Ibnu Arabi, 1972, Al-Futuhat Al-Makkiyah, ditahqiq oleh Usman Yahya, al-Hayat al-Misriyah, Kairo

Kaida, 2003, Abu Yazid Al-Busthami, Nuqtoh II

Kartanegara, Mulyadhi,  2002, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam, Cetakan Pertama, Misan Pustaka, Bandung

Lidinillah, Mustofa Anshori, 1995, Tasawuf dan Keterlibatan Sosial Sufi, Lembaga  Penelitian UGM, Yogyakarta

Mahmud , Abbas, 2002, Al-Aqqad (1996) dalam buku Menggugat Tasawuf H.M. Amin Syukur, Pustaka Pelajar,Yogyakarta

Muniron, 1999, Pandangan Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Vol I, No. 2, Paramadina, Jakarta

Nafis , M. Kholis, 2002, Konsep Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi

Nasution, Harun, 1995, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang Jakarta

Nasution, M. Yasir, 1988, Manusia Menurut Al-Ghazali, Srigunting, Jakarta

Nasution, Harun, 1995, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta






[1] Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam Cetakan Pertama, (Bandung : Misan, 2002) hal -
[2] Ahmad Najib Burhani, "Tarekat" Tanpa Tarekat: Jalan baru menuju sufi cetakan I,( - : Serambi , 2002), hal -
[3] Hamka,Tasawuf Moderen,(Jakarta: Pustaka Panjimas,1990), hal 4
[4] Mustofa Anshori Lidinillah,Tasawuf dan Keterlibatan Sosial Sufi,(Yogyakarta: Lembaga  Penelitian UGM,1995), hal 27
[5] H.M. Amin Syukur, Tasawuf Kontekstual, Solusi Problem Manusia Modern, ed., Mohammad Nor Ichwan, Muhammad Masrus,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003), hal 1-2
Lihat Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, Cet. III (Ed. Revisi), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), hal 63
[6] Abbas Mahmud al-Aqqad,1996, dalam buku Menggugat Tasawuf H.M. Amin Syukur, (Yogyakarta: Pustaka Pelaja,2002), hal -
[7] R.A.Nicholson dalam H.M. Amin Syukur,  2002,(Yogyakarta :Pustaka Pelajar,2002) hal -
[8] Muniron, Pandangan Al-Ghazali Tentang Ittihad Dan Hulul, Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, Vol I, No. 2, (Jakarta: Paramadina, 1999), hal 145
[9] Yunasril Ali,Manusia Citra Ilahi, (Jakarta: Paramadina, 1997), hal -
[10] M. Kholis Nafis, Konsep Wahdatul Wujud Ibn 'Arabi, (2002), hal 3
[11] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hal 92
[12] Ibnu Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, ditahqiq oleh Usman Yahya, (Kairo: al-Hayat al-Misriyah, 1972), hal 516-519
[13] Al-Ghazali, Aja’ib Al-Qalb (bagian dari Ihya’ Ulum Ad Din),diterjmahkan oleh M. Al-Baqir, (Bandung: Karisma, 2000), hal 75
[14] M. Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali,(Jakarta: Srigunting, 1988), hal 94
[15] Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), hal 82
[16] Ibrahim Hilal, At-Tashawwus al-Islami Baina ad-Din wa al-Falsafah, terj. Ija Suntana dan E. Kusdin cet. 1, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hal 23
[17] Kaida,Abu Yazid Al-Busthami, (Nuqtoh II: 2003), hal 34
[18] Hamka, Tasawuf- Perkembangan dan Pemurniannya, cet. VIII,(Jakarta: Panjimas, 1993), hal 94